Senin, 08 Mei 2017

MELINDUNGI SI, KONSEP DAN KOMPONEN PENGENDALIAN INTERNAL



Hubungan atau pengaruh sistem informasi pada suatu perusahaan terhadap pengendalian internal dalam upaya mewujudkan Good Corporate Governance (GCG)
Sistem informasi adalah kumpulan elemen-elemen yang saling bekerjasama dan berinteraksi kemudian diproses menjadi suatu bentuk yang penting bagi pemakai dan mempunyai nilai serta manfaat dalam pengambilan keputusan.
Pengendalian internal adalah  suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu (Wikipedia).
Corporate governance adalah suatu sistem yang dibangun untuk mengarahkan dan mengendalikan perusahaan sehingga tercipta tata hubungan yang baik, adil dan transparan di antara berbagai pihak yang terkait dan  memiliki kepentingan (stakeholder) dalam perusahaan.
Pihak-pihak terkait yang dimaksud dalam pengertian corporate governance di atas adalah pihak internal yang bertugas mengelola perusahaan dan pihak eksternal yang meliputi pemegang saham, kreditur dan lain-lain.
Idealnya pihak internal yang mungkin terdiri dari direktur, para pekerja dan manajemen akan menerima gaji dan imbalan lainnya dalam jumlah yang wajar; sementara para pemegang saham seharusnya menerima pengembalian (return) atas modal yang mereka investasikan. Kreditur akan memperoleh pelunasan atas pinjaman yang mereka berikan beserta bunganya; begitu juga halnya dengan pelanggan, mereka akan dapat memperoleh barang ataupun jasa yang ditawarkan perusahaan dengan harga yang wajar dan dengan uang yang mereka korbankan saat membeli; pemasok akan menerima pembayaran atas barang atau jasa yangmereka serahkan kepada perusahaan dan bahkan masyarakat sekitarnya pun diharapkan akan memperoleh kontribusi sosial atau bentuk-bentuk manfaat yang lainnya. Tata hubungan yang sedemikian itulah yang ingin diwujudkan oleh corporate governance. 
Agency Theory memberikan landasan model teoritis yang sangat berpengaruh terhadap konsep good corporate governance (GCG) di berbagai perusahaan di seluruh dunia. Kemudian konsep ini menjadi sangat populer dan bahkan dapat dikatakan telah menjadi isu sentral bagi kalangan pelaku usaha, pemerintah dan juga pihak-pihak lainnya.
Agency Theory menjelaskan bagaimana hubungan kontraktual antara pihak pemilik perusahaan (principal) yang mendelegasikan pengambilan keputusan tertentu guna meningkatkan kesejahteraannya dengan pihak manajemen / pengelola (agent) yang menerima pendelegasian tersebut.

Dari pengertian dan penjelasan diatas, dapat dijelaskan adanya hubungan atau pengaruh sistem informasi pada suatu perusahaan terhadap pengendalian internal dalam upaya mewujudkan Good Corporate Management (GCG).
Zaman modern saat ini identik dengan cepat, instan dan mudah. Perkembangan pesat juga terjadi hampir disemua bidang seperti ilmu pengetahuan, teknologi dan bisnis. Perkembangan dibidang bisnis yang sangat kompetitif menuntut para pelaku bisnis untuk selalu berinovasi demi mempertahankan eksistensi nya. Penyediaan informasi yang cepat dan tepat waktu menjadi salah satu hal yang wajib dimiliki oleh setiap pelaku bisnis untuk pengambilan keputusan supaya bisnis yang merak jalani terus bertahan atau bahkan mengusai pasar.

Untuk mencapai penyediaan informasi perusahaan pelaku bisnis harus memahami apa itu sistem informasi demi tersedianya informasi perusahaan, tidak hanya cepat dan tepat waktu tetapi juga berkualitas. Persaingan yang semakin tinggi diantara perusahaan yang satu dengan yang lainya, menuntut perusahaan untuk bisa bersaing dengan perusahaan lain, maka dibutukan management perusahaan yang baik dan terarah.

Penerapan proses GCG dalam suatu perusahaan merupakan proses yang tidak mudah. Diperlukan konsistensi, komitmen dan pemahaman tentang bagaimana seharusnya proses tersebut dijalankan dalam perusahaan. Dalam perusahaan publik maupun di BUMN penerapan proses GCG belum diterapkan dan dipahami seutuhnya.
Keberhasilan penerapan GCG tidak terlepas dari peran sistem informasi juga pengendalian internal yang baik dan mampu memenuhi kebutuhan stakeholders serta menjalankan fungsi pengawasan atas pelaksanaan internal control, yaitu : (1) lingkungan pengendalian, (2) penilaian resiko, (3) informasi dan komunikasi, (4) aktivitas pengendalian, dan (5) pemantauan, untuk memberikan keyakinan memadai bahwa tujuan pengendalian dapat dipenuhi. 

Contoh kerentanan dan penyalahgunaan sistem informasi & pengendalian internal di perusahaan tempat saya bekerja
Saya mengambil contoh di lingkungan tempat saya bekerja, salah satu group perusahaan kami bergerak di bidang jasa bersih-bersih berbasis online. Kami menggunakan media mobile app dan website untuk memudahkan customer melakukan order.
Untuk melakukan service, staff akan memperoleh data customer melalui mobile app masing-masing staff. Di dalamnya ada informasi alamat customer dan service apa yang akan dikerjakan.
Di awal berdirinya, dashboard (backend system) dari sistem ini masih dapat diakses oleh bagian operasional dikarenakan banyaknya kendala dalam pengaplikasian mobile app di divisi service / operasional.
Hal ini lah yang kemudian dimanfaatkan “pihak” yang tidak bertanggungjawab untuk mengambil keuntungan dari kelemahan sebuah sistem.
Penyalahgunaan yang dilakukan salah satu nya sbb :
Dikarenakan web dan mobile app yang belum optimal, pelanggan kesulitan untuk melakukan order ulang. Hal ini dimanfaatkan seorang staff operasional, untuk menawarkan jasa service pribadi tanpa harus order melalui web atau mobile app. 

Kerangka kerja untuk pengamanan dan pengendalian internal di perusahaan tempat saya bekerja
Beberapa kerangka kerja yang digunakan, diantaranya sbb :
1.    Penilaian Resiko
Digunakan untuk menentukan tingkat risiko untuk perusahaan jika kegiatan atau proses tertentu tidak terkontrol dengan baik, salah satunya adalah potensi kerugian dan nilai ancaman. Dalam contoh di atas : potensi kerugian terjadi karena karyawan mengambil alih order / omset untuk kepentingan pribadi.

Kontrol yang dapat dilakukan dalam contoh di atas adalah : Kontrol sistem informasi : dengan melakukan kontrol atas aplikasi.
a.       Kontrol umum :
ü Mengatur desain, keamanan, dan penggunaan program komputer dan keamanan file data secara umum seluruh infrastruktur teknologi informasi organisasi.
ü Berlaku untuk semua aplikasi komputerisasi yang terhubung dengan web dan mobile app.
ü Kombinasi hardware, software, dan prosedur manual untuk menciptakan lingkungan pengendalian secara keseluruhan.
b.      Kontrol aplikasi :
ü Kontrol tertentu yang unik untuk masing-masing aplikasi, seperti harga pokok dan discount tertentu.
ü Memastikan bahwa ada pihak yang berwenang dalam penggunaan aplikasi, yang termasuk : kontrol input, kontrol penolahan dan kontrol output.

2.    Kebijakan Keamanan
Peringkat risiko informasi, mengidentifikasi tujuan keamanan diterima, misalnya dengan pembatasan user dalam sebuah sistem atau aplikasi. 

3.    Memastikan Keberlangsungan Bisnis
Dapat dilakukan dengan :
a.       Manajemen Identitas
ü Proses bisnis dan alat untuk mengidentifikasi pengguna yang sah dari sistem dan kontrol akses, misal :
•     Mengidentifikasi dan kewenangan berbagai kategori pengguna (level user)
•     Menentukan bagian mana dari pengguna sistem dapat mengakses, sesuai divisi masing-masing.
•     Otentikasi pengguna dan melindungi identitas.
ü Sistem manajemen identitas, dengan :
•     Menangkap aturan akses untuk berbagai tingkat pengguna (level user).
b.      Perencanaan pemulihan bencana, dalam hal ini sesuai contoh di atas adalah kewaspadaan management atas pelayanan yang kurang baik, yang mengatas namakan perusahaan untuk kepentingan pribadinya.
c.       Perencanaan kelangsungan bisnis : fokus pada pemulihan operasi bisnis setelah bencana. Analisis dampak kelemahan sistem terhadap bisnis dan kelangsungan perusahaan.

4.    Peran dan Proses Audit
Dengan melakukan Audit Management Information System (MIS), dengan cara :
a.         Memeriksa keamanan lingkungan keseluruhan perusahaan serta kontrol yang mengatur sistem informasi individual
b.        Ulasan teknologi, prosedur, dokumentasi, pelatihan, dan personil.
c.         Bahkan dapat mensimulasikan bencana untuk menguji respon teknologi, IS staf, karyawan lainnya.
d.        Daftar dan jajaran semua kelemahan kontrol dan perkiraan kemungkinan terjadinya.
e.         Menilai dampak keuangan dan organisasi masing-masing ancaman 
  

DAFTAR PUSTAKA :
1.      Hapzi Ali, 2017, Modul Perkuliahan Sistem Informasi dan Pengendalian Internal, Melindungi SI, Konsep & Komponen Pengendalian Internal, Universitas Mercu Buana.
2.      repository.unpas.ac.id/.../RETNOWINDASARI, diakses pada 8 May 2017, pukul 18.29 WIB.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar